Selasa, 14 Januari 2014

PEMBELAJARAN DENGAN MENGGUNAKAN ALAT ELEKTRONIKA ( E – LEARNING )





UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA




Disusun :
 Untuk Melengkapi UTS Mata Kuliah TIK Pendidikan
Dosen : Dr. Danang Tandyomanu, M.Si
Oleh :
SRI DWI YULIYANTI
Jurusan : S-2 Teknologi Pendidikan
Nim : 137905030

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Pada zaman global sekarang ini, pendidikan merupakan sesuatu yang penting. Karena pendidikan merupakan akar dari peradaban sebuah bangsa. Pendidikan sekarang telah menjadi kebutuhan pokok yang harus dimiliki setiap orang agar bisa menjawab tantangan kehidupan. Untuk memperoleh pendidikan yang efektif dan efisien maka diciptakanlah e learning. E learning dapat memudahkan peserta didik dan juga pendidik dalam melakukan kegiatan pendidikan dan pembelajaran.
E learning sendiri merupakan pembelajaran jarak jauh yang dimana peserta didik dan pendidik tidak harus bertatap muka secara langsung untuk melakukan sebuah pembelajaran. E learning sudah banyak diterapkan dalam pembelajaran pada setiap jenjang pendidikan. Tujuan dari E learning adalah untuk mempermudah pembelajaran dan dapat menghemat waktu dan biaya. Dalam penerapannya, E learning dapat efektif dalam menyampaikan pembelajaran namun terdapat juga kendala dalam penerapan E learning terhadap pembelajaran.
Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, seorang pendidik atau pelaku pendidikan harus mengadakan suatu perubahan pada proses pembelajaran. Perubahan pada proses pembelajaran dapat kita lihat dalam hal penggunaan atau tidaknya alat elektronika dalam pembelajaran. Seorang pendidik yang awalnya tidak menggunakan alat bantu elektronika dalam pembelajarannya kemudian beralih untuk menggunakan alat bantu elektronik. Hal ini, menunjukkan adanya suatu pengembangan pada proses pembelajaran. Pembelajaran yang memerlukan alat bantu elektronik disebut juga e-learning ( Sukardi, 2007 : 4 ). Menurut ( Sukardi. 2007 : 4 ) e-learning bisa berupa technology base learning seperti audio dan video atau  web-base learning (dengan bantuan perangkat komputer dan internet).
Namun seiring dengan penggunaan alat elektronika ini, para teknolog pendidikan banyak yang mengungkapkan ada beberapa kendala dalam pemanfaatannya.   Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik mengangkat tema “ Mengatasi  Kendala Serta Cara Mengoptimalkan Interaksi (Face-To-Face)  Dalam Pemanfaataan Pembelajaran E-Learning ”  

B.     Rumusan Masalah
  1. Apakah Penerapan e-learning mengalami kendala dalam penerapannya ? dan Bagaimana mengatasi dan mengoptimalkan pelaksanaan e-learning jika diterapkan di Indonesia ? 
  2. Bagaimana mengoptimalkan aspek interaksi sehingga semua aspek interaktivitas pada pembelajaran tatap muka (face-to-face) dapat tercapai ? 
  3. Mengapa pendidikan perlu mempertimbangkan e-learning ? Bagaimana dengan ilmuan teknologi pendidikan menyikapi hal ini? 
  4. Apakah e-learning cenderung membuat siswa belajar mandiri ? Bagaimana upaya teknologi  pembelajaran dalam mengatasi kemungkinan tersebut?
C.      Tujuan Penelitian
  1. Upaya untuk mengatasi kendala dan mengoptimalkan penerapan e-learning di Indonesia 
  2. Upaya mengoptimalisasi interaksi yang ada didalam pembelajaran e-learning, khususnya interaksi face-to-face 
  3. Meninjau lebih dalam penggunaan e-learning seiring perkembangan teknologi pendidikan dan untuk mengatasi masalah yang timbul 
  4.  Upaya  perilaku siswa menyendiri dalam penggunaan e-learning, dan cara teknologi dalam mengatasinya 

BAB II
PEMBAHASAN
  1. Konsep Dasar E learning
1.      Pengertian  E learning
E adalah singkatan dari electronic yang berarti elektronik dan learning yang artinya adalah proses belajar, artinya E learning merupakan system pembelajaran yang menggunakan media elektronik seperti internet, computer, dan file multimedia. Seiring perkembangan zaman E learning terus berkembang dan mengalami semacam alih fungsi, pandangan orang saat ini E learning adalah pembelajaran berbasis web atau menggunakan jaringan internet. Keadaan ini terjadi karena perkembangan internet yang terus pesat sehingga lebih memudahkan setiap insan manusia untuk saling berinteraksi dalam tempat dan waktu yang berbeda.
E learning adalah pembelajaran jarak jauh yang memanfaatkan teknologi computer, oleh sebab itu juga sekarang ini E learning yang dikembangan adalah E learning berbasis web aplikasi. E learning berbasis web muncul dan berkembang dengan pesat karena memang lebih mudah diakses dan juga tidak membutuhkan kapasitas yang besar untuk membuatnya. Beda halnya dengan E learning yang berbentuk file gambar pada computer yang saat ini sudah dianggap tidak efektif lagi.

2.      Tujuan E learning
E learning membuat pembelajaran yang tidak mungkin menjadi mungkin. Maksudnya adalah pembelajaran dari tempat yang berbeda atau jarak jauh. Tujuan E learning adalah efektivitas dan efisiensi dalam proses pembelajaran. E learning memberikan kemudahan pada peserta didik dan pendidik yang tidak dapat bertemu secara langsung, dengan E learning maka pemelajaran dapat terlaksana karena jangkauan internet yang dapat diakses dimanapun sehingga biaya pembelajaran menjadi berkurang. E learning di desain untuk memudahkan pembelajaran karena informasi yang e learning berikan pada peserta didik atau pengguna E learning tersebut sangat komunikatif.
E learning sudah banyak diterapkan dalam pembelajaran. Banyak lembaga lembaga sekolah dan perguruan tinggi telah melakukannya. Pembelajaran yang dilakukan sangatlah komunikatif. Seorang pendidik memberikan tugas melalui E learning tersebut dan peserta didik mengerjakannya. Dalam E learning tersebut juga terdapat fitur yang memungkinkan peserta didik dan pendidik melakukan feed back dan tanya jawab sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif, namun tetap saja E learning ini memiliki kendala karena kita ketahui bahwa tidak ada media belajar yang sempurna.
Pembelajaran elektronik dimulai pada tahun 1970-an (Waller and Wilson, 2001) dalam (Sukardi, 2007 ; 7). Pada awal ditemukannya, pembelajaran dengan menggunakan alat elektronik ini menimbulkan banyak pertanyaan dari kalangan praktisi pendidikan. Pertanyaan - pertanyaan itu timbul seiring dengan kondisi geografis dilingkungan mereka yang kurang memadai. Dalam hal ini, masih butuh kejelasan lebih rinci dalam penerapan maupun pengembangan pembelajaran dengan menggunakan elektronik ini.  
Pada tahun 1990 –an sebuah pembelajaran dengan menggunakan elektronik ini,  mulai diminati oleh para praktisi pendidikan di Indonesia. Bahkan dibeberapa Universitas di indonesia telah mengkaji lebih dalam pembelajaran yang menggunakan alat elektronik ini untuk diterapkan di dunia pendidikan. Pembelajaran dengan menggunakan alat bantu elektronik ini disebut juga e-learning. Menurut (Brown, 2000; Feasey, 2001) dalam ( Sukardi,  2007 : 8 ) menjelaskan bahwa (e-learning) merupakan kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan jaringan (Internet, LAN, WAN) sebagai metode penyampaian, interaksi, dan fasilitasi serta didukung oleh berbagai bentuk layanan belajar lainnya (Brown, 2000; Feasey, 2001). 

B.      Beberapa kendala dan cara mengoptimalkan penerapan e-learning di Indonesia
Penerapan E learning dalam pendidikan mengikutsertakan beberapa komponen. Komponen pertama adalah infrastruktur e learning. Infrastuktur berupa personal komputer, jaringan komputer, internet dan perlengkapan multimedia lainnya. Pada infrastruktur saat pembelajaran terjadi maka terkadang terjadi kendala. Kendala yang terjadi adalah tidak semua pembelajaran efektif dalam menggunakan media komputer. Banyak pembelajaran yang lebih efektif bila dilakukan secara kooperatif atau pun kolaboratif. Pada dasarnya E learning menggunakan meedia komputer untuk menyampaikan pembelajaran sedangkan salah satu teori belajar yaitu teori humanistik adalah memanusiakan manusia dan E learning kurang memanusiakan manusia.
Kendala lain juga muncul, yaitu ketersedian dan kelayakan infrastruktur E learning itu sendiri. Dalama kenyataannya tidak semua sekolah memiliki perangkat untuk menjalankan E learning begitu pula pada Perguruan Tinggi tidak semua perangkatnya layak untuk digunakan untuk proses pembelajaran E learning. Kendala utamanya adalah ketika seorang pendidik menyampaikan pembelajaran melalui E learning maka peserta didik harus menggunakan komputer dan jaringan internet untuk menerimannya namun tidak semua peserta didik memiliki perangkat tesebut di rumahnya. Peserta didik yang tidak memiliki mendapat kendala dan harus pergi ke warnet (contohnya) untuk menggunakan E learning tersebut dan itu menambah biaya pembelajaran.
Kendala dari peserta didik yang belum dapat mengoperasikan komputer begitu juga halnya pendidik. Kita tidak bisa pungkiri pada daerah daerah tertentu E learning tidak dapat diterpkan karena tidak semua daerah memiliki pembelajaran tentang E learning. Penggunaan E learning tidak dapat terapkan karena memang peserta didik yang belum mengetahui dan menguasai bagaimana mengoperasikan E learning tersebut. Sebagian pendidik juga ada yang tidak dapat menggunakan E learning karena memang mereka tidak mendapatkan pembelajaran tersebut saat menjalani studi. Seorang guru olah raga misalnya pada saat studi mereka tidak diajarkan bagaimana menggunakan E learning secara spesifik sehingga apabila diterapkam dalam pembelajaran olah raga, guru tersebut bingun dan pembelajaran tidak dapat efektif karena tidak memiliki keahlian tersebut.
E learning memliki sistem yang dapat memvirtualisasi proses belajar mengajar mengajar konvensional. Sering disebut dengan LMS atau Learning Management System yang dimana terdapat manajemen kelas, pembuatan materi, forum diskusi dan sistem penilaian serta sistem ujian online. Pada dasarnya semua sama pada lembaga pendidikan lainnya yang dilaksanakan secara nyata namun apabila diterapkan dalam E learning akan muncul kendala lagi. Bagaimana sistem tersebut dapat berjalan lancar apabila tidak didukung oleh admin yang memliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan tersebut. Apabila seorang admin hanya mengerti bagaimana caranya mengoperasikan sistem tersebut maka dia hanya akan mengatur softwarenya saja, lalu bagaimana sistem lainnya? Untuk itu tiap bagian seperti konten, penilaian, pembuatan soal ujian harusnya di berikan pada  yang kompeten. Hal itu menjadi kendala karena kita harus melibatkan banyak orang yang memiliki kemampuan dibidangnya masing masing, sekali lagi itu memerlukan biaya yang besar dan tidak semua lembaga pendidikan dapat menjalankannya.
Usaha yang dirasa strategis untuk mengoptimalkan pemanfaatan e-Learning adalah sebagai berikut :
  • Lebih dahulu membentuk sikap positif peserta didik ( motivasi yang tinggi untuk belajar mandiri )
  • Memberikan dukungan penuh bagi penyelenggaraan e-learning
  • Mengadakan koordinasi dengan lembaga-lembaga yang terkait seiring dengan pelaksanaan e-learning
  • Mengadakan kerjasama yang kokoh dengan dunia akademik
  • Memberikan pengawasan yang cukup dalam pelaksanaan e-learning.
  • Menawarkan biaya yang terjangkau untuk mengakses ke internet


C.    Efektivitas Penerapan E learning
E learning bertujuan untu mengefektivitaskan dan juga mengefisienkan pembelajaran. Ketika kita menggunakan E learning yang kita rasakan adalah dapat belajar jarak jauh dan berinteraksi dengan instruktur atau pendidik tanpa harus menemuinya. Efektifkah E learning? Ya E learning efektif karena kit adapt belajar secara bersama dalam tempat yang berdeda dan waktu yang berbeda. E learning memliki fitur yang memungkinkan kita untuk berbagi informasi secara online. Forum pembelajaran pada E learning misalanya, kita dapat menanyakan informasi pembelajaran matematika terhadap pengguna E learning lainnya tanpa harus bertemu dan dapat juga bertanya kepada pendidik yang termasuk dalam instruktur pada E learning tersebut.
            E learning membantu meningkatkan mutu pendidikan. Pada dasarnya E learning menjadikan proses pembelajaran ke arah student center. Mengapa student center? Jawabanya adalah karena pada E learning pendidik dituntut untuk dapat membuat dan menyajikan materi pembelajaran yang baik dan menarik sehingga peserta didik dapat aktif dalam belajar. Peserta didik dituntut untuk aktif dalam belajar dalam proses belajar, peserta didik diberikan materi melalui E learning dan belajar sendiri baik belajar secara individu ataupun kelompok dan pendidik hanya menjadi fasilitator yang mendukung peserta didik tersebut. Pembelajaran menjadi efektif karena peserta didik belajar secara mandiri.

D.    Pandangan Terhadap E learning   

E learning sudah menjadi bagian dari pendidikan. Pendidikan Indonesia khususnya, telah memanfaatkan E learning sebagi media pembelajaran. Banyak lembaga pendidikan yang telah menciptakan E learning untuk mendukung system pembelajaran mereka. E learning memang menjadikan proses pembelajaran menjadi efektif namun praktek penggunaanya tidak semudah yang orang banyak bayangkan dan banyak kendala yang terjadi.
Menciptakan E learning memang tidak membutuhkan dana yang sangat besar. Zaman sekarang ini setiap orang dapat membuat E learning karena terdapat opensource yang dimana setiap orang bisa mendesain dan menciptakan E learning sendiri secara gratis. E learning yang diciptakan oleh banyak orang tersebut dapat siakses oleh semua orang di dunia ini, lalu bagaiman kulitasnya? Seharusnya setiap penyebarluasan E learning harus melalui penyaringan dan uji kulitas agar E learning tersebut layak untuk digunakan.
E learning memang cocok dijadikan media pendidikan di Indonesia. Mengapa dianggap cocok? Kita ketahui di Indonesia pengguna internet sudah tidak dapat dihitung dengan jadi lagi. Realitanya adalah pengguna jejaring social Indonesia menempati rangking 5 besar. Rangking 5 besar artinya memang internet sudah menjadi sebuah kebutuhan bagi sebagian orang. Dengan fakta tersebut maka E learning berbasis web seharusnya dapat berguna dalam membantu meningkatkan pendidikan Indonesia. Realita tersebut seakan berbalik karena pada akhirnya ketika sebuah lembaga pendidikan memberikan fasilitas internet untuk menggunakan E learning, peserta didik lebih banyak yang membuka situs lain yang tidak ada hubunganya dengan E learning dan pembelajaran dan itu adalah sebuah kenyataan.
Penerapan E learning tidak semudah apa yang kita lihat. Untuk menerapkan E learning yang benar benar berkualitas kita harus didukung oleh semua lembaga pendidikan. Pemerintah seharusnya memberikan dana untuk penerapa E learning. Dana merupakan hal yang harus ada karena untuk membangun infrastruktur E learning harus membutuhkan dana yang tidaklah sedikit. Peserta didik dan pendidik harus memiliki kemampuan untuk menoperasikan E learning, artinya pembelajaran E learning harus menjadi sebuah kewajiban dan harus ada di kurikulum sekolah mulai dari tingkat terendah sampai perguruan tinggi. Setiap konten yang terdapat pada E learning harus memiliki admin yang kompeten. Setiap lembaga harus disediakan dana khusus untuk membangun infrasturktur E learning.




E.   Cara mengoptimalkan interaksi tatap muka ( face to face  ) untuk mecapai interaktivitas pada penerapan e-learning

Untuk mengoptimalkan aspek interaksi sehingga semua aspek interaktivitas pada pembelajaran tatap muka (face-to-face) dapat tercapai e-learning harus memiliki beberapa karakteristik dan pendekatan belajar pada situasi yang berbeda-beda. Salah satu karakteristik yang dimiliki e-learning adalah Interactivity (interaktifitas); tersedianya jalur komunikasi yang lebih banyak, baik secara langsung (synchronous), seperti chatting atau messender atau tidak langsung (asynchronous), seperti forum, mailing list atau buku tamu (Rusman, 2012).  
Beberapa contoh interaksi face to face dalam kelas maya yaitu, a)  Dimana seorang pendidik dan peserta didik melakukan interaksi yang berada dalam ruang dan waktu yang sama (Synchronous), b) Pendidik dan peserta didik tidak berada dalam ruang dan waktu yang sama (Asynchronous). Meskipun demikian, proses belajar dan mengajar tetap dapat berjalan dalam lingkungan virtual. Pembelajaran yang terjadi dikelas maya (virtual classroom) dapat kita jumpai didalam pembelajaran dengan menggunakan alat elektonik (e-learning). E-learning merupakan inovasi dalam pendidikan, dengan kehadirannya diharapkan dapat mengembangkan interaksi dalam pembelajaran
Suatu pembelajarannya pada umumnya masih banyak berlangsung didalam kelas. Hal ini menunjukkan  suatu interaksi ini perlu dikembangkan lagi, karena pembelajaran dikelas lebih cenderung mementingkan suatu perhatian daripada kemandirian. Perkembangan pembelajaran bisa kearah pembelajaran elektonik (e-learning).
Menurut Siahaan (www.depdiknas.go.id/internet/html) ada tiga bentuk sistem pembelajaran melalui internet yang dijadikan dasar pengembangan sistem pembelajaran dengan mendayagunakan internet yaitu :
a.       Suplemen ( Tambahan )
Suplemen ( Tambahan ), dengan adanya e-learning, peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau tidak.
b.      Komplemen ( Pelengkap )
Dalam e-learning, materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk menjadi reinforcement (pengayaan) yang bersifat enrichment atau remedial bagi peserta didik 

c.       Subtitusi ( Pengganti )
Pada e-learning peserta didik dan guru spenuhnya terpisah, namun hubungan atau komunikasi antara peserta didik dengan pendidik bisa dilakukan setiap saat.  Dalam hal ini, pembelajaran diarahkan kepada kelas maya ( virtual Classroom)

 F. Mengapa pendidikan perlu mempertimbangkan E learning ? Bagaimana dengan Ilmuan Teknologi  Pendidikan menyikapi hal ini?

Pendidikan perlu mempertimbangkan E-learning karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan di hampir semua aspek kehidupan manusia dimana berbagai permasalahan hanya dapat dipecahkan kecuali dengan upaya penguasaan dan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi. E-Learning dikenal sebagai salah satu cara untuk mengatasi masalah pendidikan, baik di negara-negara maju maupun di negara yang sedang berkembang saat ini (Soekartawi, 2003). Dalam hal ini e-learning dianggap sebagai suatu sistem pembelajaran yang tidak bisa lepas dalam dunia pendidikan karena pembelajaran tersebut merupakan suatu sistem yang dapat mengfasilitasi tenaga pengajar dan peserta didik belajar secara menantang, mandiri, bervariasi dan menyenangkan. Melalui fasilitas yang disediakan oleh sistem tersebut, tenaga pengajar dan peserta didik dapat belajar kapan dan dimana saja tanpa terbatas oleh ruang dan waktu.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat mendorong berbagai lembaga pendidikan memanfaatkan sistem e-learning untuk meningkatkan efektivitas dan fleksibilitas pembelajaran. Pendidikan perlu mempertimbangkan e-learning karena berbagai  kelebihan yang ditawarkan dalam sistem ini membawa kemajuan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Kelebihan yang ditawarkan dalam sistem pembelajaran E-earning ini para ilmuan teknologi pendidikan menyikapi hal ini dengan berbagai asumsi yang positif.
Menurut Reigeluth (2000),  peran teknologi dalam pendidikan adalah bahwa teknologi merupakan cara manusia untuk berinteraksi antara lingkungan alami (natural) dan lingkungan artifisial (artificial). Banyak referensi  membahas tentang technological inventions yang mempengaruhi pendidikan, salah satunya dari Sears dan Hersh (2000).  Sears & Hersh (2000) memandang bahwa teknologi sangat terkait dengan pendidikan. Mereka  mengatakan jika kita memandang Teknologi pendidikan sebagai jaringan hubungan antara siswa, guru, dan lingkungan, maka jelaslah bahwa hubungan-hubungan ini secara luas terdefinisikan melalui keberadaan teknologi pembelajaran.
Menurut Association for Educational Communication  and Technology (AECT, 1977), teknologi pendidikan adalah suatu proses yang kompleks dan terpadu melibatkan orang, prosedur, ide, alat, dan organisasi untuk menganalisis masalah-masalah, merancang, mengimplementasikan, mengelola, dan mengevaluasi pemecahan-pemecahan terhadap masalah-masalah tersebut yang melibatkan semua aspek dalam human learning. Lebih lanjut Seels dan Richey (1994) mengatakan bahwa teknologi  pembelajaran adalah teori dan praktik dalam merancang, mengembangkan, menggunakan, mengelola, dan mengevaluasi proses dan sumber belajar.

G.          Upaya Teknologi Pembelajaran dalam Mengatasi Kemungkinan Perilaku Penyendiri tidak mau bersosialisasi dengan orang lain di lingkungannya.
            Pada sistem pembelajaran E-learning memiliki beberapa kelebihan diibandingkan dengan proses belajar mengajar konvensional. Hal ini berdasarkan hasil identifikasi diketahui terdapat empat kelebihan dari penggunaan e-learning dalam proses pembelajaran dikelas, antara lain: E-learning  dapat mempersingkat waktu pembelajaran dan membuat biaya studi lebih ekonomis (dalam kasus tertentu), mempermudah  interaksi  antara  peserta  didik  dengan instruktur, peserta didik yang satu dengan yang lainnya, dan  bahan/ materi pembelajaran, peserta  didik  dapat  saling  berbagi  informasi  dan  dapat  mengakses  bahan-bahan belajar  setiap  saat  dan  berulang-ulang, kapan saja, dan dimanapun. Kondisi  yang  demikian  itu  peserta didik dapat lebih memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajara dan mampu mengurangi tingkat kemutlakan kehadiran guru dalam proses pembelajaran di kelas.
Teknologi pembelajaran memandang hal ini sebagai salah satu masalah belajar yang perlu dibenahi. Berdasarkan domain teknologi pembelajaran yaitu Desain, Pengembangan, Pengelolaan, Pemanfaatan, Penilaian; solusi yang mungkin bisa dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah :
1.      Menggunakan sistim belajar kooperatif (Cooperative Learning). Yaitu siswa dibentuk dalam kelompok kecil dalam belajar. Sehingga walau terpaksa, siswa akan berinteraksi dengan siswa lainnya untuk menyelesaikan tugas tersebut.  Untuk lebih menarik, tugas yang diberikan berdasarkan masalah tertentu atau proyek tertentu, mengambil metode pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning dan project-based learning).
2.      harus diusahakan adanya interaksi yang baik dan efektif antara siswa-guru, siswa-siswa, siswa-masyarakat. Contohnya seperti tugas mewawancarai profesi tertentu untuk menganalisis kinerja mereka kemudian mempresentasikan tugasnya secara online. Dengan cara ini siswa juga harus berinteraksi dengan masyarakat luar. Sehingga memberikan pengaruh yang baik pada proses sosialisasinya. Guru harus memberikan umpan balik yang baik dan bisa memotivasi siswa, untuk bisa terus berperan aktif dalam masyarakat. Dengan berdasarkan hal ini, siswa akan terpacu untuk mengembangkan kemampuan beinteraksi aktif dengan siapapun dalam rangka menjadi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
 BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
 E learning dapat  mengefektifitaskan dan mengoptimalkan  pembelajaran namun terdapat kendala dalam penerapannya. E learning menjadikan pembelajaran lebih efektif karena dapat membantu peserta didik mandiri. Dalam pembelajaran E learning peran peserta didik harus lebih aktif dan pendidik menjadi fasilitator. Pembelajaran dapat dilakukan dalam jarak , waktu dan tempat yang berbeda. Pembelajaran E learning masih menemui  kendala pada dana, infrastruktur, dan juga kemampuan peserta didik dan pendidik. Jika ingin menciptakan pembelajaran yang efektif menggunakan E learning maka lembaga pendidikan harus dapat bekerja sama untuk membangun infrastruktur dalam  pembelajaran tentang E learning.













            Daftar Pustaka
1.      Rusman (2012), Belajar Dan Pembelajaran Berbasis Komputer, Alfabeta, Bandung
2.      Sukardi (2007 ), Pengembangan e-learning UNY. E-journal UNY
3.      Taufik. R, Optimalisasi video conference dalam lesson study, UPI
4.      Murdiono, Perancangan dan Implementasi Content Pembelajaran Online Dengan
         Metode Blended Learning, UNSRAT
              5.         diskusi-media.blogspot.com/2013_12_01_archive.
       6.          animemangagameedu.blogspot.com/.../kendala-dan-penerapan-e-learnin
       7.         rafiemadjid.blogspot.com/2013_12_01_archive
      8.          Siahaan (www.depdiknas.go.id/internet/html)