UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
Disusun :
Untuk Melengkapi UTS Mata Kuliah TIK Pendidikan
Dosen : Dr. Danang Tandyomanu, M.Si
Oleh :
SRI DWI YULIYANTI
Jurusan : S-2 Teknologi Pendidikan
Nim : 137905030
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pada zaman
global sekarang ini, pendidikan merupakan sesuatu yang penting. Karena
pendidikan merupakan akar dari peradaban sebuah bangsa. Pendidikan sekarang
telah menjadi kebutuhan pokok yang harus dimiliki setiap orang agar bisa
menjawab tantangan kehidupan. Untuk memperoleh pendidikan yang efektif dan
efisien maka diciptakanlah e learning. E learning dapat memudahkan peserta
didik dan juga pendidik dalam melakukan kegiatan pendidikan dan pembelajaran.
E learning
sendiri merupakan pembelajaran jarak jauh yang dimana peserta didik dan
pendidik tidak harus bertatap muka secara langsung untuk melakukan sebuah
pembelajaran. E learning sudah banyak diterapkan dalam pembelajaran pada setiap
jenjang pendidikan. Tujuan dari E learning adalah untuk mempermudah
pembelajaran dan dapat menghemat waktu dan biaya. Dalam penerapannya, E
learning dapat efektif dalam menyampaikan pembelajaran namun terdapat juga
kendala dalam penerapan E learning terhadap pembelajaran.
Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, seorang pendidik
atau pelaku pendidikan harus mengadakan suatu perubahan pada proses
pembelajaran. Perubahan pada proses pembelajaran dapat kita lihat dalam hal
penggunaan atau tidaknya alat elektronika dalam pembelajaran. Seorang pendidik
yang awalnya tidak menggunakan alat bantu elektronika dalam pembelajarannya
kemudian beralih untuk menggunakan alat bantu elektronik. Hal ini, menunjukkan
adanya suatu pengembangan pada proses pembelajaran. Pembelajaran yang
memerlukan alat bantu elektronik disebut juga e-learning ( Sukardi, 2007
: 4 ). Menurut ( Sukardi. 2007 : 4 ) e-learning bisa berupa technology
base learning seperti audio dan video atau web-base learning (dengan
bantuan perangkat komputer dan internet).
Namun seiring dengan penggunaan alat elektronika ini,
para teknolog pendidikan banyak yang mengungkapkan ada beberapa kendala dalam
pemanfaatannya. Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik
mengangkat tema “ Mengatasi Kendala Serta Cara Mengoptimalkan Interaksi (Face-To-Face)
Dalam Pemanfaataan Pembelajaran E-Learning ”
B.
Rumusan Masalah
- Apakah Penerapan e-learning mengalami kendala dalam penerapannya ? dan Bagaimana mengatasi dan mengoptimalkan pelaksanaan e-learning jika diterapkan di Indonesia ?
- Bagaimana mengoptimalkan aspek interaksi sehingga semua aspek interaktivitas pada pembelajaran tatap muka (face-to-face) dapat tercapai ?
- Mengapa pendidikan perlu mempertimbangkan e-learning ? Bagaimana dengan ilmuan teknologi pendidikan menyikapi hal ini?
- Apakah e-learning cenderung membuat siswa belajar mandiri ? Bagaimana upaya teknologi pembelajaran dalam mengatasi kemungkinan tersebut?
C. Tujuan
Penelitian
- Upaya untuk mengatasi kendala dan mengoptimalkan penerapan e-learning di Indonesia
- Upaya mengoptimalisasi interaksi yang ada didalam pembelajaran e-learning, khususnya interaksi face-to-face
- Meninjau lebih dalam penggunaan e-learning seiring perkembangan teknologi pendidikan dan untuk mengatasi masalah yang timbul
- Upaya perilaku siswa menyendiri dalam penggunaan e-learning, dan cara teknologi dalam mengatasinya
BAB II
PEMBAHASAN
- Konsep Dasar E learning
1. Pengertian
E learning
E adalah singkatan dari electronic yang berarti elektronik
dan learning yang artinya adalah proses belajar, artinya E learning merupakan
system pembelajaran yang menggunakan media elektronik seperti internet, computer,
dan file multimedia. Seiring perkembangan zaman E learning terus berkembang dan
mengalami semacam alih fungsi, pandangan orang saat ini E learning adalah
pembelajaran berbasis web atau menggunakan jaringan internet. Keadaan ini
terjadi karena perkembangan internet yang terus pesat sehingga lebih memudahkan
setiap insan manusia untuk saling berinteraksi dalam tempat dan waktu yang
berbeda.
E learning adalah pembelajaran jarak jauh yang memanfaatkan
teknologi computer, oleh sebab itu juga sekarang ini E learning yang
dikembangan adalah E learning berbasis web aplikasi. E learning berbasis web
muncul dan berkembang dengan pesat karena memang lebih mudah diakses dan juga
tidak membutuhkan kapasitas yang besar untuk membuatnya. Beda halnya dengan E learning
yang berbentuk file gambar pada computer yang saat ini sudah dianggap tidak
efektif lagi.
2.
Tujuan E learning
E learning membuat pembelajaran yang
tidak mungkin menjadi mungkin. Maksudnya adalah pembelajaran dari tempat yang
berbeda atau jarak jauh. Tujuan E learning adalah efektivitas dan efisiensi
dalam proses pembelajaran. E learning memberikan kemudahan pada peserta didik
dan pendidik yang tidak dapat bertemu secara langsung, dengan E learning maka
pemelajaran dapat terlaksana karena jangkauan internet yang dapat diakses
dimanapun sehingga biaya pembelajaran menjadi berkurang. E learning di desain
untuk memudahkan pembelajaran karena informasi yang e learning berikan pada
peserta didik atau pengguna E learning tersebut sangat komunikatif.
E learning sudah banyak diterapkan
dalam pembelajaran. Banyak lembaga lembaga sekolah dan perguruan tinggi telah
melakukannya. Pembelajaran yang dilakukan sangatlah komunikatif. Seorang
pendidik memberikan tugas melalui E learning tersebut dan peserta didik
mengerjakannya. Dalam E learning tersebut juga terdapat fitur yang memungkinkan
peserta didik dan pendidik melakukan feed back dan tanya jawab sehingga
pembelajaran menjadi lebih efektif, namun tetap saja E learning ini memiliki
kendala karena kita ketahui bahwa tidak ada media belajar yang sempurna.
Pembelajaran elektronik dimulai pada tahun 1970-an (Waller
and Wilson, 2001) dalam (Sukardi, 2007 ; 7). Pada awal ditemukannya,
pembelajaran dengan menggunakan alat elektronik ini menimbulkan banyak
pertanyaan dari kalangan praktisi pendidikan. Pertanyaan - pertanyaan itu
timbul seiring dengan kondisi geografis dilingkungan mereka yang kurang
memadai. Dalam hal ini, masih butuh kejelasan lebih rinci dalam penerapan
maupun pengembangan pembelajaran dengan menggunakan elektronik ini.
Pada tahun 1990 –an sebuah pembelajaran dengan menggunakan
elektronik ini, mulai diminati oleh para praktisi pendidikan di
Indonesia. Bahkan dibeberapa Universitas di indonesia telah mengkaji lebih
dalam pembelajaran yang menggunakan alat elektronik ini untuk diterapkan di
dunia pendidikan. Pembelajaran dengan menggunakan alat bantu elektronik ini
disebut juga e-learning. Menurut (Brown, 2000; Feasey, 2001) dalam (
Sukardi, 2007 : 8 ) menjelaskan bahwa (e-learning) merupakan
kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan jaringan (Internet, LAN, WAN) sebagai
metode penyampaian, interaksi, dan fasilitasi serta didukung oleh berbagai
bentuk layanan belajar lainnya (Brown, 2000; Feasey, 2001).
B. Beberapa kendala dan cara mengoptimalkan penerapan e-learning di Indonesia
Penerapan E
learning dalam pendidikan mengikutsertakan beberapa komponen. Komponen pertama
adalah infrastruktur e learning. Infrastuktur berupa personal komputer,
jaringan komputer, internet dan perlengkapan multimedia lainnya. Pada
infrastruktur saat pembelajaran terjadi maka terkadang terjadi kendala. Kendala
yang terjadi adalah tidak semua pembelajaran efektif dalam menggunakan media
komputer. Banyak pembelajaran yang lebih efektif bila dilakukan secara kooperatif
atau pun kolaboratif. Pada dasarnya E learning menggunakan meedia komputer
untuk menyampaikan pembelajaran sedangkan salah satu teori belajar yaitu teori
humanistik adalah memanusiakan manusia dan E learning kurang memanusiakan
manusia.
Kendala lain
juga muncul, yaitu ketersedian dan kelayakan infrastruktur E learning itu
sendiri. Dalama kenyataannya tidak semua sekolah memiliki perangkat untuk
menjalankan E learning begitu pula pada Perguruan Tinggi tidak semua
perangkatnya layak untuk digunakan untuk proses pembelajaran E learning.
Kendala utamanya adalah ketika seorang pendidik menyampaikan pembelajaran
melalui E learning maka peserta didik harus menggunakan komputer dan jaringan
internet untuk menerimannya namun tidak semua peserta didik memiliki perangkat
tesebut di rumahnya. Peserta didik yang tidak memiliki mendapat kendala dan
harus pergi ke warnet (contohnya) untuk menggunakan E learning tersebut dan itu
menambah biaya pembelajaran.
Kendala dari
peserta didik yang belum dapat mengoperasikan komputer begitu juga halnya
pendidik. Kita tidak bisa pungkiri pada daerah daerah tertentu E learning tidak
dapat diterpkan karena tidak semua daerah memiliki pembelajaran tentang E
learning. Penggunaan E learning tidak dapat terapkan karena memang peserta didik
yang belum mengetahui dan menguasai bagaimana mengoperasikan E learning
tersebut. Sebagian pendidik juga ada yang tidak dapat menggunakan E learning
karena memang mereka tidak mendapatkan pembelajaran tersebut saat menjalani
studi. Seorang guru olah raga misalnya pada saat studi mereka tidak diajarkan
bagaimana menggunakan E learning secara spesifik sehingga apabila diterapkam
dalam pembelajaran olah raga, guru tersebut bingun dan pembelajaran tidak dapat
efektif karena tidak memiliki keahlian tersebut.
E learning
memliki sistem yang dapat memvirtualisasi proses belajar mengajar mengajar
konvensional. Sering disebut dengan LMS atau Learning Management System yang
dimana terdapat manajemen kelas, pembuatan materi, forum diskusi dan sistem
penilaian serta sistem ujian online. Pada dasarnya semua sama pada lembaga
pendidikan lainnya yang dilaksanakan secara nyata namun apabila diterapkan
dalam E learning akan muncul kendala lagi. Bagaimana sistem tersebut dapat
berjalan lancar apabila tidak didukung oleh admin yang memliki kemampuan yang
sesuai dengan kebutuhan tersebut. Apabila seorang admin hanya mengerti
bagaimana caranya mengoperasikan sistem tersebut maka dia hanya akan mengatur
softwarenya saja, lalu bagaimana sistem lainnya? Untuk itu tiap bagian seperti
konten, penilaian, pembuatan soal ujian harusnya di berikan pada yang kompeten. Hal itu menjadi kendala karena
kita harus melibatkan banyak orang yang memiliki kemampuan dibidangnya masing
masing, sekali lagi itu memerlukan biaya yang besar dan tidak semua lembaga
pendidikan dapat menjalankannya.
Usaha yang
dirasa strategis untuk mengoptimalkan pemanfaatan e-Learning adalah sebagai
berikut :
- Lebih dahulu membentuk sikap positif peserta didik ( motivasi yang tinggi untuk belajar mandiri )
- Memberikan dukungan penuh bagi penyelenggaraan e-learning
- Mengadakan koordinasi dengan lembaga-lembaga yang terkait seiring dengan pelaksanaan e-learning
- Mengadakan kerjasama yang kokoh dengan dunia akademik
- Memberikan pengawasan yang cukup dalam pelaksanaan e-learning.
- Menawarkan biaya yang terjangkau untuk mengakses ke internet
C.
Efektivitas
Penerapan E learning
E learning bertujuan untu mengefektivitaskan dan juga
mengefisienkan pembelajaran. Ketika kita menggunakan E learning yang kita
rasakan adalah dapat belajar jarak jauh dan berinteraksi dengan instruktur atau
pendidik tanpa harus menemuinya. Efektifkah E learning? Ya E learning efektif
karena kit adapt belajar secara bersama dalam tempat yang berdeda dan waktu
yang berbeda. E learning memliki fitur yang memungkinkan kita untuk berbagi
informasi secara online. Forum pembelajaran pada E learning misalanya, kita
dapat menanyakan informasi pembelajaran matematika terhadap pengguna E learning
lainnya tanpa harus bertemu dan dapat juga bertanya kepada pendidik yang
termasuk dalam instruktur pada E learning tersebut.
E learning membantu meningkatkan mutu pendidikan. Pada dasarnya E learning
menjadikan proses pembelajaran ke arah student center. Mengapa student center?
Jawabanya adalah karena pada E learning pendidik dituntut untuk dapat membuat
dan menyajikan materi pembelajaran yang baik dan menarik sehingga peserta didik
dapat aktif dalam belajar. Peserta didik dituntut untuk aktif dalam belajar
dalam proses belajar, peserta didik diberikan materi melalui E learning dan
belajar sendiri baik belajar secara individu ataupun kelompok dan pendidik
hanya menjadi fasilitator yang mendukung peserta didik tersebut. Pembelajaran
menjadi efektif karena peserta didik belajar secara mandiri.
D.
Pandangan Terhadap E learning
E learning sudah menjadi bagian dari
pendidikan. Pendidikan Indonesia khususnya, telah memanfaatkan E learning
sebagi media pembelajaran. Banyak lembaga pendidikan yang telah menciptakan E
learning untuk mendukung system pembelajaran mereka. E learning memang
menjadikan proses pembelajaran menjadi efektif namun praktek penggunaanya tidak
semudah yang orang banyak bayangkan dan banyak kendala yang terjadi.
Menciptakan E learning memang tidak
membutuhkan dana yang sangat besar. Zaman sekarang ini setiap orang dapat
membuat E learning karena terdapat opensource yang dimana setiap orang bisa
mendesain dan menciptakan E learning sendiri secara gratis. E learning yang
diciptakan oleh banyak orang tersebut dapat siakses oleh semua orang di dunia
ini, lalu bagaiman kulitasnya? Seharusnya setiap penyebarluasan E learning
harus melalui penyaringan dan uji kulitas agar E learning tersebut layak untuk
digunakan.
E learning memang cocok dijadikan
media pendidikan di Indonesia. Mengapa dianggap cocok? Kita ketahui di
Indonesia pengguna internet sudah tidak dapat dihitung dengan jadi lagi.
Realitanya adalah pengguna jejaring social Indonesia menempati rangking 5
besar. Rangking 5 besar artinya memang internet sudah menjadi sebuah kebutuhan
bagi sebagian orang. Dengan fakta tersebut maka E learning berbasis web seharusnya
dapat berguna dalam membantu meningkatkan pendidikan Indonesia. Realita
tersebut seakan berbalik karena pada akhirnya ketika sebuah lembaga pendidikan
memberikan fasilitas internet untuk menggunakan E learning, peserta didik lebih
banyak yang membuka situs lain yang tidak ada hubunganya dengan E learning dan
pembelajaran dan itu adalah sebuah kenyataan.
Penerapan E learning tidak semudah
apa yang kita lihat. Untuk menerapkan E learning yang benar benar berkualitas
kita harus didukung oleh semua lembaga pendidikan. Pemerintah seharusnya
memberikan dana untuk penerapa E learning. Dana merupakan hal yang harus ada
karena untuk membangun infrastruktur E learning harus membutuhkan dana yang
tidaklah sedikit. Peserta didik dan pendidik harus memiliki kemampuan untuk
menoperasikan E learning, artinya pembelajaran E learning harus menjadi sebuah
kewajiban dan harus ada di kurikulum sekolah mulai dari tingkat terendah sampai
perguruan tinggi. Setiap konten yang terdapat pada E learning harus memiliki
admin yang kompeten. Setiap lembaga harus disediakan dana khusus untuk
membangun infrasturktur E learning.
E. Cara mengoptimalkan interaksi tatap
muka ( face to face ) untuk mecapai interaktivitas pada penerapan e-learning
Untuk mengoptimalkan aspek interaksi sehingga semua aspek interaktivitas
pada pembelajaran tatap muka (face-to-face)
dapat tercapai e-learning harus memiliki beberapa karakteristik dan pendekatan
belajar pada situasi yang berbeda-beda. Salah satu karakteristik yang dimiliki
e-learning adalah Interactivity (interaktifitas); tersedianya jalur
komunikasi yang lebih banyak, baik secara langsung (synchronous), seperti
chatting atau messender atau tidak langsung (asynchronous), seperti forum,
mailing list atau buku tamu (Rusman, 2012).
Beberapa contoh interaksi face to
face dalam kelas maya yaitu, a) Dimana seorang pendidik dan
peserta didik melakukan interaksi yang berada dalam ruang dan waktu yang sama (Synchronous),
b) Pendidik dan peserta didik tidak berada dalam ruang dan waktu yang sama (Asynchronous).
Meskipun demikian, proses belajar dan mengajar tetap dapat berjalan dalam
lingkungan virtual. Pembelajaran yang terjadi dikelas maya (virtual
classroom) dapat kita jumpai didalam pembelajaran dengan menggunakan alat
elektonik (e-learning). E-learning merupakan inovasi dalam
pendidikan, dengan kehadirannya diharapkan dapat mengembangkan interaksi dalam
pembelajaran
Suatu pembelajarannya pada umumnya masih banyak berlangsung
didalam kelas. Hal ini menunjukkan suatu interaksi ini perlu dikembangkan
lagi, karena pembelajaran dikelas lebih cenderung mementingkan suatu perhatian
daripada kemandirian. Perkembangan pembelajaran bisa kearah pembelajaran
elektonik (e-learning).
Menurut Siahaan (www.depdiknas.go.id/internet/html) ada tiga bentuk sistem
pembelajaran melalui internet yang dijadikan dasar pengembangan sistem
pembelajaran dengan mendayagunakan internet yaitu :
a.
Suplemen (
Tambahan )
Suplemen ( Tambahan ), dengan adanya e-learning, peserta
didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran
elektronik atau tidak.
b. Komplemen (
Pelengkap )
Dalam e-learning, materi pembelajaran elektronik
diprogramkan untuk menjadi reinforcement (pengayaan) yang bersifat enrichment
atau remedial bagi peserta didik
c.
Subtitusi (
Pengganti )
Pada e-learning peserta didik dan guru spenuhnya
terpisah, namun hubungan atau komunikasi antara peserta didik dengan pendidik
bisa dilakukan setiap saat. Dalam hal ini, pembelajaran diarahkan kepada
kelas maya ( virtual Classroom)
F. Mengapa pendidikan perlu
mempertimbangkan E learning ? Bagaimana dengan Ilmuan Teknologi Pendidikan menyikapi hal ini?
Pendidikan perlu mempertimbangkan
E-learning karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa
perubahan di hampir semua aspek kehidupan manusia dimana berbagai permasalahan
hanya dapat dipecahkan kecuali dengan upaya penguasaan dan peningkatan ilmu
pengetahuan dan teknologi. E-Learning dikenal sebagai salah satu cara untuk
mengatasi masalah pendidikan, baik di negara-negara maju maupun di negara yang
sedang berkembang saat ini (Soekartawi, 2003). Dalam hal ini e-learning
dianggap sebagai suatu sistem pembelajaran yang tidak bisa lepas dalam dunia
pendidikan karena pembelajaran tersebut merupakan suatu sistem yang dapat
mengfasilitasi tenaga pengajar dan peserta didik belajar secara menantang,
mandiri, bervariasi dan menyenangkan. Melalui fasilitas yang disediakan oleh
sistem tersebut, tenaga pengajar dan peserta didik dapat belajar kapan dan
dimana saja tanpa terbatas oleh ruang dan waktu.
Perkembangan teknologi informasi dan
komunikasi yang sangat pesat mendorong berbagai lembaga pendidikan memanfaatkan
sistem e-learning untuk meningkatkan efektivitas dan fleksibilitas
pembelajaran. Pendidikan perlu mempertimbangkan e-learning karena berbagai kelebihan yang ditawarkan dalam sistem ini
membawa kemajuan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Kelebihan yang
ditawarkan dalam sistem pembelajaran E-earning ini para ilmuan teknologi
pendidikan menyikapi hal ini dengan berbagai asumsi yang positif.
Menurut
Reigeluth (2000), peran teknologi dalam
pendidikan adalah bahwa teknologi merupakan cara manusia untuk berinteraksi
antara lingkungan alami (natural) dan
lingkungan artifisial (artificial).
Banyak referensi membahas tentang technological inventions yang
mempengaruhi pendidikan, salah satunya dari Sears dan Hersh (2000). Sears & Hersh (2000) memandang bahwa
teknologi sangat terkait dengan pendidikan. Mereka mengatakan jika kita memandang Teknologi
pendidikan sebagai jaringan hubungan antara siswa, guru, dan lingkungan, maka
jelaslah bahwa hubungan-hubungan ini secara luas terdefinisikan melalui
keberadaan teknologi pembelajaran.
Menurut Association
for Educational Communication and
Technology (AECT, 1977), teknologi pendidikan adalah suatu proses yang
kompleks dan terpadu melibatkan orang, prosedur, ide, alat, dan organisasi
untuk menganalisis masalah-masalah, merancang, mengimplementasikan, mengelola,
dan mengevaluasi pemecahan-pemecahan terhadap masalah-masalah tersebut yang
melibatkan semua aspek dalam human
learning. Lebih lanjut Seels dan Richey (1994) mengatakan bahwa
teknologi pembelajaran adalah teori dan
praktik dalam merancang, mengembangkan, menggunakan, mengelola, dan
mengevaluasi proses dan sumber belajar.
G. Upaya Teknologi Pembelajaran dalam Mengatasi Kemungkinan Perilaku Penyendiri tidak mau bersosialisasi
dengan orang lain di lingkungannya.
Pada
sistem pembelajaran E-learning memiliki beberapa kelebihan
diibandingkan dengan proses belajar mengajar konvensional. Hal ini berdasarkan
hasil identifikasi diketahui terdapat empat kelebihan dari penggunaan e-learning
dalam proses pembelajaran dikelas, antara lain: E-learning dapat
mempersingkat waktu pembelajaran dan membuat biaya studi lebih
ekonomis (dalam kasus tertentu), mempermudah interaksi
antara peserta didik dengan instruktur, peserta didik yang
satu dengan yang lainnya, dan
bahan/ materi pembelajaran, peserta didik dapat
saling berbagi informasi dan dapat
mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan
berulang-ulang, kapan saja, dan dimanapun. Kondisi yang
demikian itu peserta didik dapat lebih memantapkan penguasaannya
terhadap materi pembelajara dan mampu mengurangi tingkat kemutlakan kehadiran
guru dalam proses pembelajaran di kelas.
Teknologi
pembelajaran memandang hal ini sebagai salah satu masalah belajar yang perlu
dibenahi. Berdasarkan domain teknologi pembelajaran yaitu Desain, Pengembangan,
Pengelolaan, Pemanfaatan, Penilaian; solusi yang mungkin bisa dilakukan untuk
mengatasi masalah tersebut adalah :
1.
Menggunakan sistim belajar kooperatif (Cooperative
Learning). Yaitu siswa dibentuk dalam kelompok kecil dalam belajar.
Sehingga walau terpaksa, siswa akan berinteraksi dengan siswa lainnya untuk
menyelesaikan tugas tersebut. Untuk
lebih menarik, tugas yang diberikan berdasarkan masalah tertentu atau proyek
tertentu, mengambil metode pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning dan project-based learning).
2.
harus diusahakan adanya interaksi yang baik dan efektif antara siswa-guru,
siswa-siswa, siswa-masyarakat. Contohnya seperti tugas mewawancarai profesi
tertentu untuk menganalisis kinerja mereka kemudian mempresentasikan tugasnya
secara online. Dengan cara ini siswa juga harus berinteraksi dengan masyarakat
luar. Sehingga memberikan pengaruh yang baik pada proses sosialisasinya. Guru
harus memberikan umpan balik yang baik dan bisa memotivasi siswa, untuk bisa
terus berperan aktif dalam masyarakat. Dengan berdasarkan hal ini, siswa akan
terpacu untuk mengembangkan kemampuan beinteraksi aktif dengan siapapun dalam
rangka menjadi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
E learning
dapat mengefektifitaskan dan mengoptimalkan pembelajaran namun terdapat kendala dalam
penerapannya. E learning menjadikan pembelajaran lebih efektif karena dapat
membantu peserta didik mandiri. Dalam pembelajaran E learning peran peserta
didik harus lebih aktif dan pendidik menjadi fasilitator. Pembelajaran dapat
dilakukan dalam jarak , waktu dan tempat yang berbeda. Pembelajaran E learning
masih menemui kendala pada dana,
infrastruktur, dan juga kemampuan peserta didik dan pendidik. Jika ingin
menciptakan pembelajaran yang efektif menggunakan E learning maka lembaga
pendidikan harus dapat bekerja sama untuk membangun infrastruktur dalam pembelajaran tentang E learning.
Daftar Pustaka
1. Rusman (2012), Belajar
Dan Pembelajaran Berbasis Komputer, Alfabeta, Bandung
2. Sukardi (2007 ), Pengembangan
e-learning UNY. E-journal UNY
3. Taufik. R, Optimalisasi
video conference dalam lesson study, UPI
4.
Murdiono, Perancangan dan Implementasi Content Pembelajaran Online Dengan
Metode Blended
Learning, UNSRAT
5.
diskusi-media.blogspot.com/2013_12_01_archive.
6. animemangagameedu.blogspot.com/.../kendala-dan-penerapan-e-learnin
7.
rafiemadjid.blogspot.com/2013_12_01_archive
Tidak ada komentar:
Posting Komentar